Tuesday, September 28, 2021
Spreading the love for Indonesian football culture


Kekurangan fasilitas latihan di Indonesia: Mengapa sangat membutuhkan saat ini

Sepak bola profesional telah berkembang pesat selama beberapa dekade terakhir. Kehadiran penggunaan metode baru seperti ilmu olahraga, analisis data, dan…

By Awaydays Asia , in Budaya Sepak Bola , at September 5, 2021 Tags: ,

Sepak bola profesional telah berkembang pesat selama beberapa dekade terakhir. Kehadiran penggunaan metode baru seperti ilmu olahraga, analisis data, dan pembinaan psikologis mengubah ekosistem sepakbola profesional untuk selamanya. Semua aspek tersebut sekarang menjadi bagian esensial dalam permainan sepak bola modern. Aspek tersebut juga membutuhkan fasilitas pendukung yang memadai untuk memberikan kontribusi yang optimal terhadap performa para pemain di lapangan.

Metode holistik seperti ini mendorong manajemen klub untuk menyesuaikan atau memperbaiki tempat latihan yang ada untuk mengakomodasi standar baru di sepak bola profesional. Contoh bagus yang definisikan ulang kata tempat latihan ideal adalah Etihad Campus dari Manchester City dan AXA Training Center dari Liverpool. Fasilitas seperti ini menolong pemain, anggota staf, dan manajemen untuk mencapai target masing-masing.

Ada perbedaan besar antara negara-negara yang sepakbolanya maju dan berkembang, seperti Indonesia. Selain kontras dalam kualitas permainan dan pemahaman taktik, ada juga perbedaan besar dalam infrastruktur olahraga, seperti yang dijelaskan dalam artikel kami tentang fenomena stadion di Indonesia. Kekurangan fasilitas latihan swasta yang memadai merupakan masalah besar dalam sepak bola Indonesia saat ini dan bagaimana kita bisa mengatasinya?

Banyak pilihan dan perbedaan

Sebelum kita bahas situasi di Indonesia, perlu dijelaskan secara singkat definisi akomodasi latihan. Klub sepak bola profesional biasanya memiliki lokasi terpisah di mana mereka mengadakan sesi latihan menjelang pertandingan. Latihan-latihan ini tidak hanya termasuk latihan sepak bola di lapangan, tetapi juga latihan fisik/kebugaran di gym dan diskusi taktis di ruang. Selain itu terkadang ada fasilitas tambahan seperti lapangan dalam, kolam renang, tempat kebugaran, mess dan kantor manajemen. Namun, ada perbedaan antara fasilitas latihan yang akan diklarifikasi dalam tabel di bawah ini.

NamaFasilitasAkses
Training groundPaling dasar: satu lapangan utama, ruang ganti dan gymDibuka untuk umum atau pribadi
Training centerLebih lengkap: beberapa lapangan latihan luar, ruang ganti/ruang bersama, kantor manajemen dan gym Pribadi
Football campusPaling lengkap: beberapa lapangan luar dan dalam, ruang ganti, ruang bersama, kantor, mess, pusat akademi dan lain-lain.  Pribadi

Training pitch hopping

Bagi penggemar sepak bola, aspek fasilitas sebenarnya hal yang dasar dan seharusnya selalu disediakan oleh setiap pihak manajemen klub sepak bola profesional. Fasilitas pribadi menguntungkan, karena klub bola bisa melakukan aktivitas tanpa gangguan dari pihak (penyewa) lain. Namun, Indonesia sangat ketinggalan dalam faktor ini. Klub-klub sangat enggan untuk menginvestasikan uang mereka untuk membangun pusat latihan pribadi. Alhasil, sesi latihan harus digelar di lapangan yang sama dengan tempat laga kandang, yakni stadion lokal. Hal ini tidak hanya mempengaruhi kualitas rumput, karena rumput akan lebih cepat rusak akibat penggunaan yang berlebihan, tetapi juga berdampak pada suasana sepak bola profesional secara umum. Tidak adanya tempat latihan terpisah menunjukkan iklim olahraga profesional yang lemah di mana para pemain dan anggota staf harus menghadapi kondisi lain yang tidak ideal, seperti kekurangan peralatan latihan, nutrisi olahraga yang buruk, dan perumahan pemain yang tidak memadai. Hal ini mempengaruhi pola pikir dan performa para atlet di kompetisi.

Penyebab kurangnya tempat latihan karena terlalu mengandalkan upaya pemerintah (daerah). Semua klub sepak bola di kasta tertinggi Indonesia (Liga 1) menyewa stadion dan tempat latihan dari otoritas lokal. Beberapa tim, seperti Bali United, Persija Jakarta dan Persib Bandung bisa menggelar sesi latihan mereka di lokasi terpisah, karena ada ketersediaan lapangan sepak bola umum yang lain, tetapi ini jauh dari situasi yang ideal. Lapangan umum ini boleh diakses publik juga jadi berarti penyewa lain bisa menggunakan fasilitas dan bahkan bisa mengusir klub profesional jika mereka menawarkan harga sewa yang lebih tinggi.

Hal ini menyebabkan fenomena ‘training pitch hopping’ di mana klub menggunakan lapangan latihan yang berbeda dalam minggu yang sama. Bukan hal yang aneh jika tim berlatih di tiga (!) tempat berbeda dalam tiga hari berturut-turut. Dari sudut pandang olahraga profesional, ini sangat mengganggu, mahal dan tidak efisien. Oleh karena itu, beberapa tim lebih memilih berlatih di stadion kandang, meski mereka mengerti dampak negatifnya kepada kualitas rumput.

Pemain Bhayangkara FC menjajal Stadion Brawijaya Kediri sebelum bertanding pada Jumat, 6 Maret 2020. (Foto: Fendhy Plesmana/Ngopibareng.id)

Keuntungan jangka pendek vs jangka panjang

Kekurangan fasilitas dasar menghalangi perkembangan olahraga paling populer di Nusantara. Sebagai penjelasan: masalah utama adalah di aspek kurangnya fasilitas pribadi dan bukan jumlah lapangan sepak bola publik. Faktanya, ada banyak sekali stadion di Tanah Air. Indonesia menempati peringkat ke-5 di Asia dan ke-12 di seluruh dunia dalam jumlah stadion per negara dengan jumlah 100+ stadion. Anggaran pemerintah yang besar untuk pembangunan dan pemeliharaan stadion lokal mendorong klub untuk menyesuaikan kembali anggaran mereka dan utamakan hal yang lain, seperti gaji staf, biaya perjalanan, dan mess pemain.

Sebagai contoh kecenderungan klub lokal untuk lebih menyukai keuntungan jangka pendek daripada keuntungan jangka panjang: Empat pemain asing yang diizinkan per tim di kompetisi mendapatkan gaji rata-rata 10-20 miliar rupiah (600.000 – 1,2 juta euro) jika digabungkan sementara proses pembangunan tempat latihan memiliki price tag yang hampir sama. Ada pilihan yang mana memiliki prioritas dan jelas jangka pendek lebih unggul.

Di sisi lain, tim memang diharapkan segera mengejar kesuksesan. Tekanan besar dari penggemar, sponsor, dan investor selalu menjadi bagian dari sepak bola, tetapi telah meningkat drastis sejak munculnya penggunaan media sosial. Karena orang bisa membuat suaranya didengar melalui media sosial, minat terhadap olahraga ini lebih besar dari era sebelumnya, apalagi di Indonesia. Juta-jutaan orang mengikuti akun media sosial tentang sepak bola dan mengungkapkan pandangan atau opininya. 

Perhatian besar seperti ini bisa ditanggapi baik positif maupun negatif. Cinta sejati dan semangat tiada terbatas dari para pendukung sangat memotivasi para pemain dan tim, tetapi sikap toxic dari sebagian kecil dari komunitas yang menyebarkan kebencian bisa mempengaruhi mental seorang atlet dan pelatih. Ini harus dihindari kalau bisa, tetapi tekanan publik pasti selalu ada dan membuat klub memprioritaskan kesuksesan instan daripada proses jangka panjang.

Johor Darul Ta'zim FC training centre

Pelajaran berarti dari Vietnam, Malaysia dan Thailand 

Memang jelas harus ada perubahan besar agar sepak bola Indonesia berkembang ke arah yang benar. Negara ini turun dari peringkat teratas di Asia Tenggara ke kategori menengah dan bahkan hampir disusul oleh Kamboja (Indonesia menyemai Kamboja di peringkat 173 dan 174 di peringkat FIFA bulan Juni dan Juli 2021). Negara tetangga lain, seperti Thailand, Vietnam dan Malaysia telah membuat kemajuan yang signifikan dalam dekade terakhir setelah mereformasi struktur sistem sepakbola mereka, termasuk infrastruktur. Mungkin federasi sepak bola Indonesia (PSSI), operator liga (PT LIB) dan klub profesional bisa mempelajari proses yang dilakukan oleh negara-negara tersebut. Kami membahas satu perubahan paling signifikan dari setiap negara:

Aturan paling berpengaruh di Thailand adalah pengetatan standar klub (lisensi klub) untuk semua tingkat piramida sepak bola, mulai dari Liga Thailand 1 hingga 4. Peraturan ini berkisar dari masalah keuangan (transparansi, anggaran) hingga infrastruktur. Ada kriteria, seperti persyaratan memiliki fasilitas latihan berkualitas yang harus di memenuhi peserta sebelum dapat izin untuk ikut kompetisi. Semakin tinggi level kompetisinya, semakin ketat aturannya. Awalnya, ini adalah langkah yang sulit, tetapi adil untuk semua tim. Klub yang tidak stabil/profesional tidak dapat lisensi dan dilarang untuk bertanding dalam ajang nasional. Aturan ini juga meningkatkan level sepak bola secara keseluruhan dalam jangka panjang (5 sampai 10 tahun ke depan). Setelah beberapa tahun, aturan ini menghasilkan banyak tempat latihan pribadi yang berkualitas.

Fasilitas latihan di Vietnam

Kalau Federasi Sepak Bola Vietnam (VFF) memiliki roadmap yang berbeda dalam membentuk masa depan sepakbola mereka. VFF berfokus pada membangun atau memperkuat kemitraan publik-swasta (baik asing maupun lokal) dan lebih kepada pengembangan pemain muda. Strategi ini telah menghasilkan pembangunan pusat pelatihan kelas atas (baik lapangan alami maupun buatan) di beberapa kota di Vietnam. Training center terlengkap adalah Promotion Fund for Vietnamese Football Talent (PVF) di Long Hun yang telah menerima sertifikat bergengsi yaitu AFC Elite Youth Scheme pada tahun 2020, karena menerapkan ‘metode paket total’ untuk mengembangkan pesepakbola usia muda.

Terakhir, Malaysia. Negeri Jiran juga memulai proses perkembangan baik beberapa tahun yang lalu. Sebagian besar kemajuan ini dikarenakan upaya daya klub yang dimiliki oleh seorang pangeran lokal: Johor Darul Ta’zim (JDT). Tim dari provinsi Johor ini tidak memiliki sejarah yang kaya dan sukses, tetapi telah membuat langkah maju yang luar biasa setelah pengambilalihan oleh keluarga kerajaan. Rencana ambisius dari sang pangeran didasarkan pada keyakinan bahwa sepak bola bisa menyatukan warga sekitar melalui rasa identitas dan kebanggaan bersama. Kedatangan sumber daya uang dan manusia yang besar tidak hanya menguntungkan tim utama, tetapi juga pada tim-tim junior mereka. JDT telah mendirikan salah satu tempat pelatihan milik swasta paling inklusif di Asia Tenggara. Hal ini menyebabkan era dominasi total oleh JDT di Liga Malaysia sejak tahun 2014. Tim-tim lain mencoba meniru kesuksesan mereka dengan mengalokasikan sebagian besar anggaran klub untuk infrastruktur dan sistem pembinaan anak muda, yang manfaatnya akan terlihat dalam waktu dekat. 

Perbaikan di Tanah Air 

Paragraf sebelumnya menunjukkan bahwa Indonesia bisa belajar dari kinerja negara lain untuk meningkatkan level sepak bola. Belum terlambat untuk berubah dan menjadi lebih baik ke depan. Untungnya, mayoritas tim Liga 1 dan Liga 2 juga menyadari kekurangan infrastruktur saat ini. Beberapa tim sudah mulai membangun tempat latihan sendiri sejak kompetisi dihentikan akibat pandemi virus corona (awal 2020), seperti Bali United, Persita Tangerang, dan Madura United. Tim lain rencanakan road map tentang lokasi pelatihan mereka di masa depan.

Training center terbaru di Bali United

Semua inisiatif yang dilakukan saat ini disambut baik oleh pengamat sepak bola dan penting sekali untuk masa depan sepak bola Indonesia. Namun, selalu ada klub yang menonjol di atas yang lain dan yaitu AHHA PS Pati FC (sebelumnya dikenal sebagai PSG Pati FC). Kami sudah membahas rencana-rencana luar biasa dari klub ambisius ini yang berdomisili Jawa Tengah dalam sebuah artikel, tetapi kita belum mendalam di aspek infrastruktur.

Klub yang berbasis di Pati baru-baru ini dibeli oleh Atta Halilintar, artis YouTube terbesar di Indonesia (25+ juta subscribers). Dia menjelaskan, potensi tim yang menjanjikan meyakini dia untuk membeli klub dari pengusaha lokal Saiful Arifin. Sang YouTuber bertekad untuk mengikuti filosofi Arifin untuk membangun kampus sepakbola yang utuh agar para pemain akademi bisa berkembang dan menjadi tulang punggung tim utama di masa depan. Klub ini sudah memiliki tiga lapangan bola dan lapangan keempat dan kelima dalam proses pembangunan. Fokusnya terhadap pengembangan pemain dan fasilitas pelatihan profesional sangat unik di Indonesia sehingga mereka menginspirasi tim Liga 2 lainnya untuk melakukan hal yang sama. RANS Cilegon, DEWA United dan tim lain yang juga baru-baru ini mendapat celebrity takeover berjanji akan segera mulai proses pembangunan tempat latihan mereka sendiri.

Fasilitas latihan Persib Bandung

Tren klub-klub Liga 2 ini semakin meningkatkan tekanan (media sosial) pada tim-tim Liga 1 untuk membangun fasilitas sendiri agar tidak ketinggalan dengan klub-klub dari kasta kedua. Selain itu, pemerintah juga menambahkan lapangan latihan publik di dalam dan sekitar kota tuan rumah Piala Dunia U20 2023. Sekarang masih ada banyak waktu untuk renovasi lapangan yang sudah ada, karena turnamen junior dua tahunan tersebut telah ditunda hingga tahun 2023. Stadion yang saat ini tidak layak lagi untuk dipakai untuk pertandingan sepak bola, seperti Stadion 10 November di Surabaya sedang direvitalisasi menjadi tempat latihan bagi peserta Piala Dunia. Selanjutnya, lapangan-lapangan latihan baru yang berstandar FIFA sedang dibangun di area stadion tuan rumah. Gelora Bung Tomo di Surabaya mendapat tiga lapangan latihan yang dikelilingi sawah dan Si Jalak Harupat di Bandung mendapat lapangan sintetis. Ini juga membuka peluang bagi klub Liga 1 untuk berlatih secara terpisah dari stadion.

Kesimpulannya, ada masalah dengan kurangnya fasilitas latihan di Indonesia. Akomodasi pelatihan sangat penting dalam sepakbola modern. Ketergantungan berlebihan kepada pemerintah lokal telah menyebabkan lingkungan olahraga yang kurang profesional. Awalnya, klub-klub lokal enggan untuk membangun fasilitas mereka sendiri, dan justru lebih memilih keuntungan jangka pendek daripada keuntungan jangka panjang. Akhirnya, mereka menyadari ada kebutuhan fasilitas yang urgen setelah melihat proses perkembangan negara-negara tetangga dan peran AHHA PS Pati dan Bali United. Semoga tren positif ini membuat masa depan yang lebih cerah bagi sepak bola Indonesia dan para pengikutnya.

Comments


×

Powered by WhatsApp Chat

× WhatsApp Us!